Pelarianku Cinta Terakhirku

 Keraguanku

Siang itu matahari begitu terik dan cuaca begitu hangatnya, terasa bermandikan keringat ditambah dengan angin yang lumayan bertiup kencang sehingga memadamkan keringat yang mulai becucuran. Siang yang begitu menyengat namun angin yang begitu kencang mengurangi sedikit sengatan matahari ini. Agar lebih mengurangi sengatannya kusirami wajahku dengan air wudhu dan kutundukkan wajahku masuk kedalam rumahNya sambil menunggu adzan segera dikumandangkan. Aku melihat wanita hanya aku seorang diri membuatku tersenyum tipis, sambil melirik sekitar, aku kemudian berdiri dan keluar berharap ada teman sekelaskku yang datang namun masih belum terlihat. Aku memandang kearah kiriku membentang sawah orang yang lumayan luas, padi yang menguning itu begitu indah nan cantik semakin berkilau dengan hamparan terik matahari penuh kilau. “Masya Allah”ucapku dalam hati. Aku baru tersadar begitu indah di siang hari dan begitu besar keagungan Allah, padi begitu terlihat cantik mataku karenaNya. Disela-sela Aku memandang sawah nan cantic dan yang menyentuh bahuku membuatkku tersentak dan terjatuh. “Astaghfirullah, afwan na mengagetkan mu ty….??? Dengan suaranya lembut dan sedikit kaget sambil membantuku berdiri “enggak kok gw gpp….”ucapku cengengesan menatap matanya…. “lagian km gk usah ngelamun, aku gk bisa berhenti ketawa tw ngeliat km jatuh langsung jalan kesini,,,,,”sambungnya sambil ketawa….”iiihhhh jahat kamu” memanyunkan mulutku “na yang salah, tba-tiba ajja ngagetin”ucap aisyah lembut memandang kearah aya,,,, aku hanya tersenyum…..”aku disini saksi loh, mau tau kebenaraannya,,,”menatapku penuh sindiran sambil ketawa,,,,Aisyah yang hanya biasanya terdiam mulai terbawa virus Aya “wooy saksi mata, kesaksian apa yang bisa kamu sampaikan….”tanyaku sambil mencubit pipinya “sakiitt tau ra,, (melepas tangannku) okkaayy aku mw bersaksi, but wait pipiku jd tembem iya (hahahahahahaha) hhhmmmm btw loe denger gk Icha ngucapin salam 3x loh ra..” menatapku sambil tersenyum menatapku seperti seorang dokter melihat pasien “iiih loe mandangnya biasa ajja kalii” ucapku sambil memincingkan mata dengan nada bercanda “menurut ana biasa jja ty” ucap aisyah/Icha “iya mnurut gw juga, gw biasa ajja” memandangku dengan senyuman “hmmmm iya iya iya, perasaan gw saja dan jujur gw gk dengerr”ucapku tersenyum sambil menggerakkan tanganku, aku melihat tatapan Aya yang sedikit aneh apa memang perasaanku saja. “hmmm, iya udah lagi lima menit adzan kita masuk ajja yukz” ajjak Aisyah. Aku dan Aisyah masuk kedalam musholla sedangkan Aya pergi mengambil air wudhu. Aku merasa saat itu Aya sangat berbeda seakan-akan dia bukan sahabatku dia begitu jauh. Entah perasaan apa yang aku rasakan, seperti Aku merasa sendiri, hatiku terasa tak menentu. Sehabis shalat berjamaah aku hanya terdiam duduk di pojokkan Aku hanya memandang langit indah mengagumi kebesaran sang pencipta mataku terus menatapnya, pikiranku terus berputar pada saru titik, hatiku mulai terasa sakit dan embun hati mulai terjatuh tanpa  kusadari aku mulai menutup mataku dan berusaha tersenyum, Aku bingung apa yang Aku rasakan entah apa itu. Aku tiba-tiba teriak, dan kudapati diriku dalam pekukkan Aya. Aku memandangnya dan menenggelamkan diriku dalam pelukkan sahabatku itu. “Syukur semua orang sudah bubar dan hanya gw ma loe ajja, loe kenapa sayang tiba-tiba teriak, cerita dach kalau begitu berat” ucap icha sambil memelukku dan mengusap pundakku sambil membaca istighfar dan ayat-ayat pendek. Aku hanya memandangnya dan berkata dengan suara berbisik “keputusanku salah, gw sengaja buat Husen cemburu dan sebaliknya Yusuf, sengaja ingin buat Amirah cemburu. Jujur gk da perasaan apapun gw ma Yusuf” Aya hanya memandangku sambil tersenyum dan berkata “terus sekaranng bagaimana Ra….” Gw gk tw tp Gw gk mw lepas dari Yusuf seperti ada magnet antara Gw ma Dia Ya,,,, dan Gw bingung….” Ucapku sambil menutup mukaku. “ngapain bingung ra, Loe lagi bentar nikah ma Yusuf, okay hubungan Loe ma Yusuf dibandingkan Husen, Emang lebih lama dengan Husen. Boleh Gw Tanya kenapa loe putus ma husen…..???” ucapnya sambil menatapku penuh. Aku hanya terdiam sejenak, “gw ma Husen, gw gk tw jelas sepertinya gw ngerasa Husen gk pernah cemburu ma gw sepertinya gw ngerasa dipermainin plus apapun yang gw  minta selalu diturutin jadi gw lelah…” tiba-tiba Aya mnta aku berhenti dengan tatapan serius “diam sebentar gw gecek sekitar lagi soalnya gw denger suara“ saran Aya sambil keluar melihat sekitar dan beberapa menit dia masuk “terus Ra….gk mungkin Loe lelah karena itu” Tanya Aya dan menyodorkan kertas dan pulpen memberi isyarat tuk aku menuliskan di kertas. Aku hanya menghela napas, dan melihat sekitar dari jendela dan dari kejauhan terlihat ada beberapa mahasiswa menuju musholla aku tersenyum menatap Aya dan sebaliknya Aya. Kutulis dalam kertas #Gw gk gk tw, tp gw ngerasa lelah dengan dia dan gw pengen buat cemburu, hmmm kebetulan si Yusuf pengen buat Amirah juga cemburu, jadi gw ma Yusuf ngelakuin ini dan tiada perasaan sama sekali gw ma Yusuf dan gk sengaja gw ngeliat Husen ma cwe lain dan disitu gw cerita ke Yusuf  dan Yusuf nenangin gw# setelah menulis itu aku sosdorkan kertas itu ke Aya. “kita kesitu yuk,,,,(menunjukkan Keara pohon besar ditepi kolam dan terlihat sepi) ini q baca disana”dengan suara pelan. Kemudian aku dan Aya pergi munuju pohon besar itu setiba disana, Aya membaca isi kertas itu dan seketika dia menatapku dengan tersenyum “menurutku wajar, sepertinya Husen ingin membalasmu juga, mungkin dia cemburu…. Loe kurang sensitf maksud gw peka” aku melihatnya sakali lagi “gini Ya, rencana gw ma Yusuf belum gw laksanain, eh gw ngeliat Husen ma cwe lain”ucapku dengan nada yang kecewa. Aya menatapaku penuh, “hhmmm gw ngerti, berarti Allah nunjukkin kalau Husen itu bukan jodoh Loe Ra, Husen bukan yang terbaik intinya lupakan dia, loe gk ngerebut Yusuf dari Amirah,Yusuf takdir loe Ra ini yang ngebuat loe ngelamun, ingat satu minggu lagi loe nikah ma Yusuf dan seharusnya loe gk masuk kuliah kek gini” ucapnya lembut namun terasa tegas sambil menatapku. Aku hanya tersenyum sesekali embun hatiku terjatuh tanpa seijinku, aku menatap Aya, dan memberikan selembar kertas Aya mengambil dan membacanya. “Jangan terpengaruh dengan ini, ingat loe gk selingkuh dari Husen, loe juga bukan perebut Yusuf, tapi ini rencana Allah, Yususf bukan pelarianmu, tapi bagi Yusuf loe itu pelabuhannya” ucap aya tegas,,, kata-kata Aya mulai berputar dikepalaku, sepertinya kupingku tertutup dari kata-katanya, apakah ini tanda kalau Yusuf bukan jodohku, aku meragukannya. “Ya, gw ngeraguin pernikahan ni, gw ragu kalau Yusuf bakal jadi cinta terakhirku, Dia hanyalah pelarianku disaat gw kecewa dengan Husen” ucapku serak “ntar da yang liat kalo loe nangis kek gini, gk cantik tw orang nangis,,,,(ucap aya sambil menggoda hingga membuatku tersenyum) terus mau loe, pernikahan ini batal iya dan Yusuf nikah ma Amirah gitu,,,,”mata Aya mulai serius. Mendengar kata batal dan menikah dengan Amirah jantung terasa terhenti, petir terasa menyambar tubuhku bumi seakan terbelah.”Astaghfirullaaahh, gk akan,,,, gw gk akan pernah batalin pernikahan ini, karena Yusuf laki-laki yang baru aku kenal langsung mengkhitbah gw, gw gk kenal agama, tp karena Yusuf, gw belajar. Terkadang gw ragu Amirah ma Yusuf pacaran” ucapku blak blakan sambil tersenyum. “siapa bilang mereka pacaran dan loe datang kekehidupan Yusuf pada saat dan waktu yang tepat, dan ini rencana Allah,,,,”ucap Aya bijak. Iya memang rencana Allah, aku dipertemukan dan lagi sebentar akan menjadi istrinya, istrri seorang calon akuntan. Aku terus memandang langit entah apa yang dikatakan Aya, aku tak mampu mendengarnya entah apa yang terjadi denganku aku tak sanggup mendengar kata-katanya. Aku hanya mendengar teriakan yang tak bisa kutemukan dimana tempatnya hanya menggema dan semakin jelas hingga membuatku terjatuh. Dan ketika aku tersadar aku sudah dikamar dan Yusuf disampingku bersama orangtuaku, beberapa saat kemudian semua pergi hanya aku dan yusuf.

“kamu kenapa,,,???” ucapnya lembut. Aku hanya memutar bola mataku dan menggeleng terasa lidahku kelu dan bisa berkata apapun aku hanya menatapnya dengan senyuman namun tiba-tiba “kamu ingin pernikahan ini kita undur atau kita batalkan” suaranya pelan namun memekakan telingaku. Aku menatapnya, keriingat hatiku mulai runtuh, aku seakan tak bisa berbicara lidahku benar kelu dan aku hanya bisa menggeleng, mengambil sebuah kertas dan pulpen disamping tempat tidurku, kutuliskan kata TIDAK, KITA LANJUTKAN,,,, aku menatapnya, terlihat dia kaget dan tersenyum “baiklah dan terima kasih” kemudian berlalu meninggalkanku. Dihari pernikahanku aku melihat Husen dan Amirah datang, hatiku terasa semakin berat, ingin kutancapkan belati didadaku, namun ketika melihat senyum Yusuf seperti beban itu menghilang dan ketika Dia menjabat tangan ayahku dengan melakukan ijab qobul terasa hatiku bergetar embun hati mulai berjatuhan rasa bahagia dan beban yang begitu berat kini telah menghilang dan keyakinanku tentang dia telah mulai tertanam serta nama Husenpun telah mulai menghilang dalam benakku. Iya Dia adalah cinta terakhirku dan aku berharap hingga kejannahnya. Aku tersenyum tiada henti dan seperti biasa Aya mengagetkanku dengan pelukkannya dan baru aku tau ternyata kekasih Yusuf yang sebenarnya adalah Aya sendiri sahabatku dan aku tau dari ibunya Yusuf sendiri, aku menatap nanar kepada Aya namun dia selalu memelukku dan memberi senyumannya yang ikhlas. “Barakallah ra semoga hingga jannahNYa Allah,,,,” ucapnya dengan suara bahagia, tapi aku masih memendam rasa kecewa kepadanya karena tidak pernah bercerita kepadaku dan kenapa aku harus tau hari ini. “makashi Ya, dan gw berharap  gw adalah istri satu-satunya Yusuf” ucapku tegas “Insya Allah, Amin,,,, dgerin tu Suf”ucapnya bahagia. Melihat dan mendengar kata-katanya tulus ternyata aku salah, munngkin dulu Aya pernah dekat namun tidak seperti bayanganku. Aku segera memeluk Aya hangat dan lagi-lagi keringat hatiku mulai terjatuh, dalam pelukkannya Ia berkata “ingat dia cinta terakhirmu jangan lagi loe raguin dia mulai hari ini sering-seringlah libatkan Allah dalam urusanmu agar kau tak merasa ragu lagi” ucapnya dengan penuh kehangatan hingga buatku tenang dan yakin akan pilihanku, iya libatkan Allah, karena rencana Allah selalu indah.

Komentar